Misteri Sepatu

Sekitar sebulan lebih aku dengan segala keterbatasan jadi emak jadi-jadian untuk mereka(walikelas mksudnya). Dan selama itu pula aku selalu nemuin kejadian aneh setiap kali keluar kelas setelah mencerdaskan anak bangsa (baca; ngajar😁 ).

Sepatuku selalu berpindah tempat, gaes! Awalnya di bawah jadi naik ke teras kelas. Untungnya bukan tong sampah.

Awalnya kupikir memang aku yang lupa atau salah narok sepatu. Atau jiwaku yang sedang terganggu. Diganggu setan dan kamu. Wkwkw.

Sampai suatu hari bener-bener tak titeni. Sebelum masuk kelas, aku memastikan sepatuku duduk manis di bawah teras kelas.

Jam pelajaran usai, aku nggak sabar liat sepatu. Dan…

Jreng jreng…

Tuh, kan. Beneran, Sepatuku bisa jalan.

Demi memastikan kalo aku masih normal, aku masuk lagi ke kelas.

” Kenapa sepatu ustadzah selalu naik ke teras ya, ada yang tau? Sepatu kalian gimana, bisa jalan juga gak, atau masih merangkak? ”

Seisi kelas sama-sama bengong. Aku juga.

Lalu salah satu siswi angkat tangan tanpa senjata.

” Saya, Ustadzah “.

” Kenapa? ” Aku penasaran. Barangkali dia pengen sepatuku buat ganjel pintu.

” Gini, Ustadzah, kata Ustad saya dulu, harus memuliakan guru. Nah kali aja kan kalau saya naikin sepatu Ustadzah, saya jadi kecipratan barokah dari Ustadzah “.

Aku auto ngerasa bagai Bu Nyai. Dingalapi barokah! 😁😂

Mau ketawa iya, nyesek tertohok lebih lagi. Orang menganggap kita baik, mereka hanya tak tau berapa lautan dosa yang sudah kita lakukan.

Allahummaghfirlanaa…

Tragedi ATM

Terhitung 1 Januari kemarin, aku jadi nggak PD kalau lewat depan Pak Polisi. Biasanya bisa nyapa ramah sambil senyum-senyum, muter-muter. Sekarang mah boro-boro, liat wae ogah aku. Takut ditanya, “warriinii iqoomah yaa gamiilah?” Haha. *Sengaja nggak ditranslate, demi menjaga kewarasan bersama.

Ya, ceritanya visaku habis masa berlakunya tanggal 31 Desember tahun lalu. Sudah ngajuin pembaruan visa sekarang tinggal nunggu entah sampai kapan. Selama nggak pegang paspor inilah aku jadi serba salah sama Pak Polisi *ini rahasia ya. Nasib tinggal di negara orang, visa itu ya ibarat nyawa kedua, izin tinggal di rumah mereka. Nggak punya visa ya jangan sok sokan ngebolang kemana-mana. Doakan aku cepet dapet visa & makin cantik ya pembaca.

Dengan berakhirnya masa berlaku visa, berakhir pula masa berlaku kartu perdana (sim kart) ku. Soalnya orang asing beli kartu harus menyertakan fotokopi paspor beserta visa. Ada sih yang jual kartu tanpa perlu seribet ini, tapi ya itu, jauh lebih mahal, heheh.

Nah, kalau visa sudah nggak aktif otomatis kartu perdana juga nggak bisa dipake. Gimana ya kalau nggak ada kartu aku nggak bisa nelpon sapi sapi di belakang rumah dong? Jadi alternatif lain aku pinjem visa temen buat beli kartu baru. Biar nggak keluar duit banyak. Smart kan? Medit Mbak!

__
Selepas zuhur berangkatlah aku dengan Defitri, adik kelas sekaligus temen di asrama yang juga bernasib sama.

Turun dari mobil kita langsung jalan ke ATM buat ngambil duit minhah(beasiswa), padahal itu anggaran buat tabungan ehm malah kepakek buat beli kartu. Nggak apa apa lah daripada aku nggak bisa vc kangen-kangenan sama sapi, kan.

Tepat saat kami berdua mau balik badan selesai narik duit, ada seorang bapak tua, kisaran umur 70 tahunan. Dengan jubah putih yang sudah usang, baju penghangat seadanya, juga sorban yang dililit dikepala.

Duh, aku mau cerita kok langsung panas mataku. Padahal lagi musim dingin.

Kakek itu bicara entah bahasanya gimana, beda dengan bahasa yang sering aku denger di Kairo. Lahjah bahasa orang Mesir memang beda-beda, walaupun nggak sebanyak di Indonesia.

Kemungkinan Beliau ini pendatang dari desa, soalnya sedang ada perayaan maulid Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah. Perayaan ini biasanya sampai seminggu penuh. Berbondong-bondong orang datang dari berbagai daerah ke Masjid Husein yang terletak di Darrosah Kairo, ibu kotanya Mesir. Acaranya dzikir, shalawatan, dan lainya bukti cinta pada Rasulullah dan keturunanya.

Bapak tua ini ternyata juga bermasalah di pendengaran, soalnya aku udah keras keras bicara beliau masih terus deketin telinganya ke mukaku, ya Alloh. Mana bahasaku pas pasan, ngepas banget mah. Jurus terakhir akhirnya kami pakai bahasa isyarat, sambil terus komat kamit. Bapak tua ini nyodorin kartu ATM dan kertas kecil yang dari tadi dia pegang.

Ternyata beliau mau minta tolong kita ngambilin uang.

Baiklah.

Kartu sudah dimasukin ke mesin ATM, kita bagi tugas. Aku jadi tukang nanya, De urusan kartu ATM. Terus De bingung.

“Kak, tanyain no pin nya berapa? “

” De aja coba yang nanya.”

“Dih, sama kakak aja nggak ngerti apalagi aku.”

Gimana ya nanya pake isyarat biar beliau paham. Aku coba pencet-pencet telapak tangan. Maksudnya nanya no pin. Beliau nunjuk kertas kecil yang tadi beliau kasih. Alhamdulillah paham.

” Mau diambil berapa kak uangnya? “

Duh gimana lagi ini.

” Coba cek dulu berapa duitnya. “

Temenku mulai beraksi lagi.

” 840 pound kak. “

” Entu eiza kem ya Baba? ” (Bapak minta berapa?)

Beliau bingung. Aku tambah bingung.

” fii hena tamanu miah wa arbaiin. “

Nanya sambil mainin jadi bentuk huruf 8, 4,0. Kular kilir orang ngeliat dikira kurang waras ini si mbak endonesa.

Ya Alloh gimana ya.

” Ambilin 500 pound aja kali ya kak, kasian kalau diambil semua ntar nggak ada uang lagi. “

” Yaudah, iya. “

De mulai lagi tugasnya.

” Ini kak. ” De nyerahin uang 500 pound beserta struk pengeluaran.

” Dii khumsu miah, wa henaa tultu miah wa arbaiin. ” (ini 500, disini masih 340) aku nyerahin uang sambil nunjuk katru ATM nya.

“dii kem?” (ini berapa?) bapak ini mala nanya lagi uang 500 tadi.

” Khumsu miah. ” (500) jawab sambil bentang 5 jari khas orang dadah.

Aku coba bantu beliau ngitungin duit tadi. (lagi).

” fii hena tultu miah wa arbaiin. ” (di sini masih ada 340) aku nunjuk kartu ATM beliau.

” kullu, kullu. ” (semua, semua)

” Baba ‘eiza binkhrij kullu?” (Bapak minta keluarin semuanya) entah sampai berapa kali aku ngulang pertanyaan itu, sampai akhirnya ada suara satu bapak dengan nada kesal,

“Khollasti yaa gamaa ah? “(kalian sudah selesai?)

Ternyata sudah ada tiga orang yang antri di belakang kami, baru ngeh. Reflek kami mundur saat bapak yang nggak sabaran tadi maju. Kugandeng Bapak tua tadi sambil bilang tunggu sebentar mau ngambil sisanya.

Beliau ngangguk.

” Biar sama saya aja, Ustazah.” Mas mas dengan jaket maron menawarkan diri, bantuin Bapak tua ini lo ah.

Eh kok tau? Berarti aku ngomong keras keras tadi juga dengerin dong ya? *Gagal pencitraan.

” Oh gitu. Nggak papa ni Ustd? “

” Nggak papa Ustazah, sekalian nanti biar saya yang ambilkan uangnya. “

Berhubung kami berdua juga diburu waktu dan yang nawarin bantuan juga sesama mahasiswa Indonesia yang insyaallah nggak mungkin macem-macem. Karena pasti ada alasan Bapak tua ini lebih milih minta bantuan kami daripada sesama mereka, kan.
___

” Kak, aku kepikiran Bapak tadi, kasian.”

De tiba-tiba berucap. De emang tipe orang mudah kasian. Kadang beli barang yang nggak terlalu penting alasannya cuma kasian sama penjualnya. Respect.

” Iya De, sama. Doain aja.”

“Iya kak. “

Dan acara kepikiran itu berlanjut sampe sekarang. Kenapa jalan sendirian ke kota yang rada semrawut gini, Pak? Nggak minta temenin anaknya atau siapa gitu? Atau mungkin sama keluarga juga tapi kok bapak yang ngambil duit di ATM? Ah mungkin keluarganya juga sama susahnya. Ya Alloh.. Gimana kalau dijahatin orang, Pak? Semoga disehatkan dan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yaa. Aamiin..

Doa yang sama buat Apak di sana, Apak terkeren yang juga belum pernah ngambil uang di ATM.

Besok-besok kalau Apak mau ke kota, biar aku yang temenin.

Duh, kok nyesek.

Temen-temen kalau punya orang tua sudah sepuh jangan dibiarin sendirian, jauh ya ditelpon meski nggak tau mau ngomong apa lagi, didoakan, disayang, dimanja, tanya maunya apa.

Duh, tambah nyesek.

Tisu mana tisu?

Ngerasa “Paling”

Tau kenapa silaturahim jadi nggak asik lagi?

Karena dari kita mungkin ada yang sering ngerasa.

Yup, masalah silaturahim itu kita suka ngerasa penting, ngerasa paling banyak berbuat, ngerasa paling paling berjasa.

Silaturahim itu kan dari hati. Dan hati itu nggak singkron dengan yang namanya riya’. (yang namanya Riya nggak usah tersinggung 😁)

Makin sibuk ngerasa berjasa orang jadi sebel.

Nabi bersabda,

لا يدخل الجنة الا من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebutir biji zarrah.”

Yang selalu ingin menonjolkan diri pasti dapat hasil sebaliknya.

Jadilah seperti jantung, tak pernah menonjolkan diri, meski kehadirannya tak nampak di permukaan, tapi selalu berbuat dan memberi manfaat yang besar. Sedetik tak berdetak maka tak berfungsi lagi seluruh anggota badan.

Untuk diakui berjasa tak perlu sibuk menonjolkan diri, tapi banyaklah berprestasi dan menebar manfaat di manapun.

Pisang

Manusia diciptakan sudah lengkap dengan rizkinya masing-masing. Tak akan tertukar, jadi gak usah iri kalau tetangga sudah punya pajero la kita baru punya mio (kredit pula. 🙊)

Jemput rizki dengan ikhtiar dan doa. Cari berkahnya dengan cara yang halal.

Jangan pernah malu sama kerjaan. Jadi kuli bangunan, buruh, jualan onlen, sales panci, tukang parkir sampe tukang ronsokan, atau apapun.. Berbanggalah, karena jelas penjenengan semua lebih berkelas daripada para junjungan yang suka main gelap maem duit rakyat.

Percayalah, seganteng apapun orang bisa seketika jelek kalau berani main curang. Jadi jangan sekali-kali berani curang kalau gak mau gantengnya ilang! 😎

Salam dari Mamang penjual pisang yang mirip Reza rahardian.

___
Bulek, bukan monyet.
Cairo, penghujung tahun.

Sebuah Rahasia

___

Si Jago baru saja unjuk suara merdunya, mengiringi sang fajar menampakkan diri, membangunkan anak manusia yang masih asyik terbuai mimpi. Pertarungan melawan hari baru saja akan dimulai.

“Dek, tangio wes subuh, ayo sholat”(dek, bangunlah sudah subuh, ayo sholat)
Mamuk, Kakak perempuan yang kedua membangunkanku yang masih setia meringkuk dalam selimut.

Kubuka mata dengan malas, memelihat kearah luar dari celah jendela kamar, masih gelap. Kembali kupejamkan mata.

“ Mip, cepet tangio!”(Mip, cepet bangun!) kali ini Mamuk datang dengan mendaratkan gelitik di telapak kakiku. Aku tidak menghiraukanya, kusingkirkan kakiku dari tangannya lalu kutarik selimut kembali melanjutkan tidur yang sedikit terusik.

Kau tau? Kelima kakak perempuanku sering kali membully, bercerita bahwa aku adalah anak yang tidak diharapkan, kau tau kenapa?

Ah bukan, bukan karena mereka tidak menyayangiku.

Ceritanya waktu itu Emak ku satu-satunya hamil anak ke enam, orangtua ku ini sangat berharap memiliki jagoan, anak laki-laki maksudnya, bukan ayam jago! karena kelima anaknya yang lebih mendahuluiku lahir ke dunia semuanya ‘cantik’. Jadilah aku yang masih dalam kandungan sebagai harapan.

Segala bentuk upaya dilakukan, Emak tidak henti-hentinya membaca surat Luqman. Aku juga heran apa kolerasinya surat Luqman dengan anak laki-laki. Ada yang bisa menjelaskan?

Apak memang tidak pernah membawa istrinya ke dokter kandungan semasa hamil anak pertama sampai nyaris berjumlah selusin. Karena biaya yang relatif lebih mahal dan naluri orang jaman dulu yang percaya dukun beranak lebih canggih daripada dokter, terlebih dukun beranak ini adalah kerabat dekat. Menambah kepercayaan mereka berlipat-lipat. Jadi hanya mampu mengira-ngira yang akan lahir ini perempuan atau laki-laki.

Entahlah Emak begitu yakin aku yang masih di dalam kandungan itu akan terlahir tampan.

Hamdalah diucap dengan seulas senyum yang dipaksakan, Apak dan istrinya tidak ada pilihan lain selain menerima. Terlahirlah aku, bayi perempuan dengan ketidak jelasan, antara cantik dan tampan. Mungkin ini sedikit pengaruh dari surat Luqman yang selalu dibacakanya ketika aku hamil, eh maksudnya ketika aku dalam kandungan.

“ndane ono anak heng diarepne, kabeh podo”(mana ada anak yang tidak diharapkan, semua sama)
Hanya itu jawaban yang kudengar saat kutanyakan kebenaran berita itu. Emak membantahnya dengan tawa, sambil terus melanjutkan acara mencuci baju di sumur belakang rumah sore itu.

“ Mip, tangi dek”(Mip, bangun dek)
Mamuk kembali membangunkanku setelah selesai dari shalat subuhnya.

Aku terlonjak kaget, mengingat sesuatu. Sayangnya bukan shalat subuh yang membuatku bangun seketika.

Segera aku menuju keranjang tumpukan baju, mengorbrak-abrik pakaian di sana, mencari sesuatu. Kalau sampai tidak ketemu maka aku tidak bisa berangkat sekolah hari ini. Pikiranku berkecamuk.
Saat itu usiaku baru delapan tahun, masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar yang terletak di desa tetangga. Cukup jauh dari rumah.

Kami terbiasa menyiapkan seragam sendiri, Emak masih punya bayi saat itu, kerepotan jika ditambah menyiapkan seragam, kami mengerti, memaklumi. Kelima kakakku berbagi tugas rumah menggantikan Emak.

Biasanya Ndok, kakakku diurutan ke empat, selalu siap menyertikakan seragamku dengan syarat dia tak perlu mencari, diantar langsung di hadapanya, dan tak lupa sepaket dengan ucapan terimakasih.

Menyetrika saat itu bukan hal yang mudah, butuh kepiawaian menyesuaikan panasnya, kalau tidak bisa, maka bersiaplah bajumu akan menjadi korban bara api. Loh kok?

Hei bukan setrika listrik seperti sekarang ini yang kumaksud, listrik belum masuk kerumah kami saat itu, meski rumah tetangga bersinar benderang dengan cahaya listrik, kami masih menggunakan lampu ublik, kami menyebutnya ‘damar’, Apak yang membuatnya, menggunakan dasar kaleng apa saja, lalu letakkan sumbu atau secarik kain yang sudah diapit ditengah lubang kaleng yang dibuat melingkar, dituangkan bahan bakar minyak di kaleng yang masih utuh, lalu masukkan sumbu tadi. Jadilah lampu yang indah bersinar, menerangi malam gulita di tengah keluarga kami, meninggalkan jejak hitam dalam hidung di pagi hari.

Setrika kami terbuat dari besi berwarna hitam, berat. Bentuknya seperti setrika saat ini, hanya saja ada tutup dan ruang dengan beberapa lubang disamping guna meniup bara api yang hendak mati. Ya, bara api dimasukkan dalam setrika untuk bahan utama pemanas. Itu berarti kau harus membakar kayu untuk jadi bahan panas yang akan dimasukkan dalam setrika ini. Sesekali membuang api yang sudah menjadi abu agar tidak jatuh ke baju yang sedang disetrika. Terbayang bagaimana sulitnya?, jujur aku tidak bisa melakukannya, aku lebih memilih berangkat dengan baju kusut daripada harus melewati berbagai rintangan menyetrika tadi.

Dan malam Itu aku sibuk bermain, beberapa kali diingatkan untuk menyiapkan seragam sekolah, tapi tidak kuhiraukan. Aku sungguh menyesal pagi ini.

“nggolek paen? “(nyari apa?)
Mamuk bertanya keheranan.

“ ngok”

“paen?”(apa?) Mamuk mendekatkan telinganya kearahku.

“ ngok” Kukeraskan sedikit suara sambil terus mengobrak abrik keranjang baju.

Kulihat Mamuk menggaruk-garuk kepalanya, bingung, masih belum mengerti apa yang kumaksud.

“Paen? “(apa?) Kembali ia bertanya.

Aku yang sudah sedari tadi kesal, yang kucari tidak juga kutemukan, ditambah dengan pertanyaan yang berualang kali bernada sama. Belum lagi wajahku belum tersentuh air, bangun tidur langsung beraksi mengobrak-abrik keranjang baju, membuat setan dengan mudah menyulut api marah.

“Ngoookk.. Ngoookk… Ngoookk…!!!! “

Pecah tangisku subuh itu, kulempar semua baju dikeranjang kearah Mamuk yang masih kebingungan. Tertawa melihat tingkahku, tambah kesal aku dibuatnya secara otomatis volume tangisku membesar.

“dikapak adike ku?” (diapain adiknya tu?) terdengar suara Emak dari kamar sebelah, sedang menyusui adik laki-lakiku yang masih bayi. Iya, saat itu aku sudah punya tiga adik, dua laki-laki dan satu perempuan.

Malam tadi aku bermain rumah-rumahan dari kain yang kami ikat di kaki meja membentang sebagai pintunya bersama kedua adikku. Seru sekali, hingga menghiraukan perintah menyiapkan baju seragam. Yang penting sudah mengaji maka kuanggap selesai tugasku. Aku memang susah diatur.

“Mbuh iki ditakoni nggolek paen malah ngak ngok ngak ngok.. “(nggak tau ini ditanyain nyari apa malah ngak ngok ngak ngok..)

Mamuk setengah berteriak menjawab pertanyaan Emak.

“ Apuo? “(kenapa?) kini giliran Polung, kakak perempuan pertamaku datang menenangkanku, disusul dengan ketiga kakak perempuan lainnya menghentikan aktifitas mereka demi melihat aku yang uring-uringan dipagi hari.

“ ngok abang hon hengono.. “ (rok merahku nggak ada..)

Jawabku disela isak tangis.

“ O…. ROK”

Semua serempak berteriak lega, diiringi gelak tawa. Akhirnya mereka faham demi mendengar kalimat merah yang kuucapkan.

Dan pagi itu dengan tanpa sengaja terbongkar rahasia yang selama ini kusimpan rapat, bahwa aku belum bisa mengucapkan huruf “R” dengan sempurna.

Ketika aku mengucapkan me-r-ah maka akan sampai di telinga me-ng-ah, kata r-oti dengan ng-oti, seperti itulah.

Aku menyadarinya, aku yang sudah duduk di bangku kelas tiga SD belum bisa mengucapkan abjad R. Aku malu jika orang lain tau, takut dijadikan bahan olokan. Selama ini aku selalu menghindari kata yang berbau huruf R didalamnya, jika pun harus melewatinya maka aku akan mengucapkanya dengan hati-hati hingga tidak ada satu pun yang menyadari. Termasuk orang-orang terdekatku.

pernah beberapa kali Guru bahasa indonesia menyuruhku maju membacakan cerita di depan kelas, aku sangat takut saat pertama kali maju, maka setiap kali bertemu kata yang terdapat huruf R dengan sengaja kupelankan suara, atau batuk yang kubuat-buat, agar tidak ada satupun temanku curiga. Dan cara ini berhasil, aku lega.

Tapi tidak pagi ini.. Aku tertangkap basah oleh seisi rumah. Hanya karena rok merah serangam SD ku yang ternyata sudah disiapkan oleh salah satu kakak perempuanku.

Pagi itu, sungguh aku sangat kesal dan malu.
_

Masih kuingat siang itu saat Apak memboncengku dengan sepeda ontel miliknya melewati jalan setapak ditengah hutan, Apak hendak mengantarku ke rumah kakek menyusul Emak yang sudah pergi sejak pagi saat aku masih di sekolah. Setiap kali libur sekolah, biasanya kami mengunjungi kakek dan nenek.

Di perjalanan kami melihat gerombolan kera bergelantungan, berpindah dari satu dahan ke dahan lainya.

“ paen iko arane?” (apa itu namanya?)
Apak menanyaiku sembari menujuk ke arah gerombolan kera.

“monyet”

Apak tampak kecewa dengan jawabanku, aku tidak mengerti. Setauku hewan itu memang bernama monyet, apa aku salah?

“ Beruk, paen byeng?” (beruk, apa nak?) Apak menyebutkan satu nama, lalu menyuruhku mengulanginya.

Aku faham maksud Apak, dengan sengaja memilih kata beruk daripada monyet karena ada huruf R di dalam kata beruk.

Aku bersungut kesal. Apak terus memaksa, akhirnya dengan terpaksa kulafazkan nama hewan itu.

“ benguk”

Apak tidak tertawa seperti dugaanku, Ia terdiam sambil terus mengayuh sepeda tuanya.

Di lain kesempatan saat kami sedang berdua, Apak selalu memilih kata yang menimbulkan getaran R di dalamnya, lalu menyuruhku mengulanginya beberapa kali.

Kadang sengaja menemaniku belajar malam saat seharusnya ia beristirahat dari penatnya mengurus ladang. Memilih buku cerita bahasa Indonesia lalu memintaku membacakanya, wajahnya tampak antusias saat aku hendak melewati kata-kata “horor” di dalam bacaan itu. Mereka seolah menari mengejekku, sungguh rintangan yang sangat berat. Aku lebih memilih minum kopi pahit daripada harus menyapa si R.

Aku berhenti, tidak mau membaca.

Apak lalu mengeluarkan petuah saktinya yang tidak pernah kulupa hingga saat ini.

“ kadong heng dicacak kapan bisone, heng pan-pan salah, engko lak pasti biso kadong ngomong terus. Hengusah isin” (kalau nggak dicoba kapan bisanya, nggak apa-apa salah, nanti pasti bisa kalau bicara terus. Nggak usah malu)

Apak melepas kacamatanya, menutup buku, lalu menyuruhku tidur.

Sejak saat itu aku diam-diam mengamalkan petuah Apak, mencari setiap kata yang terdapat huruf R lalu menyebutkanya, mengulanginya beberapa kali.

Ajaib! Akhirnya aku bisa melafazkan kata “ROK” dengan sempurna.

Nggak percaya? Boleh di tes deh.. Hehe.

~
Terimakasih Apak, telah menjadi wasilahku mampu mengucapkan “R” dengan sempurna, hingga aku tidak perlu susah-susah memelankan suara atau pura-pura batuk lagi.

Terimakasih Apak, telah mengajariku bahwa sesuatu akan kita dapatkan dengan kesungguhan.

Terimakasih.

Btw.. anak-anak Bapak sudah bisa nyebut “R”??
_

Colek yang dulu bernasib sama

#nostalgia #rindu #gadisapak

___
Bulek, yang jago nyebut beRRRRRRRuk.
Asrama Madeenat Bu’uts, 10/11/18.

Sembilan Piring

___

“ini juga kan, Mak?” Miahungana, gadis kecil itu dengan riang bertanya. Membantu Emak yang sedang membereskan rumah.

Tiga hari menjelang idulfitri. Sudah jadi rutinitas tahunan keluarga itu, setiap kali mendekati hari raya selalu membersihkan, mencuci, mengelap semua perabotan dapur, mulai dari piring, gelas, sendok dan lainnya.

Perempuan tiga puluh lima tahun itu menoleh, tersenyum mengangguk.

“iya, Nduk” lalu kembali menurunkan perabotan rumah dari dalam lemari kayu usang.

“kalau yang ini, Mak?”kembali Miahungana bertanya sambil menunjuk tumpukan piring dalam kardus.

Emak kembali menoleh.

“iya juga, tapi hati-hati lo itu berat. Jangan langsung angkat semuanya “titah Emak.

” enteng kok, Mak. Cuma ada 9 piring “riang Miahungana menjawab semangat setelah menghitung piring dalam kardus.

Hanya selang beberapa detik tiba-tiba..

PRANGG..

Tak disangka tumpukan piring itu jatuh pecah berserakan, menyisakan tangan kecil gemetar memegangi kardus yang tak lagi terisi.

Emak mendekat dengan ekspersi kesal, marah tertahan.

Miahungana tau perempuan dihadapanya tak mungkin sampai memukul, tapi wajah kecewa itu cukup membuatnya semakin tertunduk.

“kan sudah Emak bilang jangan angkat semuanya ” Emak bersungut kesal tanpa menoleh pada putri ketujuhnya itu, sambil memungut serpihan kaca di atas tanah keras di dapur miliknya.

Miahungana tak bergeming dari tempatnya berdiri, tak pula berani menatap perempuan yang telah melahirkanya itu. Segugukan, sesekali mengusap mata juga hidung yang sudah basah.

Emak menatapnya, diam. Tak terselamatkan sudah benda berharganya itu, sembilan piring cantik yang tak lama ia beli dengan hasil jerih payahnya berdagang sayuran.

Selesai menyapu pecahan piring, Emak mengambil sangkek yang biasa ia bawa untuk belanja ke pasar, juga tumpukan kacang panjang yang sudah diikat rapi ke tepi jalan raya, lalu membawanya dengan angkot ke pasar Sungai Lilin. Ia pergi begitu saja tanpa suara, tanpa menatap putrinya.

Biasanya saat ia pergi ke pasar, dari ketujuh putrinya, Miahungana lah yang paling heboh merengek ingin ikut menemaninya berdagang. Acik, kakak perempuan di atasnya sampai terkadang harus merelakan jatah harinya ikut ke pasar demi agar adiknya tak lagi menangis berguling-guling di tanah. Meski seringkali mabok angkot, muntah. Ah.. Benar-benar merepotkan. Tapi Miahungana tak pernah kapok, terus memaksa ikut ke pasar lagi dan lagi.

Lalu pagi ini seolah ada sekat yang tak tampak, putrinya diam, tak bersuara apalagi merengek. Mengantarnya hanya dengan tatapan mata dari kejauhan.

Tak ada yang paling menyesakkan saat kebiasaan dengan orang tersayang, tiba-tiba tak dapat lagi dilakukan. Begitu bukan?

Keduanya melepas dengan rasa yang.. Entah.
___

Pukul sepuluh pagi..

Emak datang tergopoh, dengan sangkek kosong tak seperti biasanya selalu membawa tumpukan kresek belanjaan dari pasar berisi beras, ikan, sabun, tak ketinggalan kue martabak, pempek, atau ciki2 pasti ia beli untuk anak-anaknya yang sudah menunggu. Biasanya juga Emak baru pulang saat lewat waktu zuhur. Kenapa hari ini?

Menghambur ia memelukku, menghujaniku dengan ciuman, mengusap-usap rambutku, dengan terus meneteskan airmatanya.

Emak, pagi itu dengan sengaja tak menjual eceran daganganya agar bisa cepat pulang menemuiku untuk meminta maaf.

Ah, Emak.
_

Emak, Ia seorang ibu yang pernah terpuruk, nyaris kehilangan akal sehat saat ditinggal satu putri kecilnya. Lalu berhasil bangkit hanya dengan mengingat kami yang tersisa.

Emak, aku belum tau bagaimana rasanya jadi seorang ibu, tapi aku tau bagaimana rasanya tulus dicintai seorang ibu.

Emak, aku tak tau bagaimana caramu berbagi, hingga kami bisa merasakan kadar cinta yang sama.

Emak, percayalah kami semua mendamba keindahan yang kau miliki. Berusaha bisa secantik dirimu.

Emak, untuk semua lelahmu, semoga Allah hadiahkan syurga.

__
Miahungana, Anak Emak.
Cairo, 10 nov 2018.